June 23
TEMBESU
TEKNIK PENANAMAN TEMBESU
Tembesu (Fagraea fragrans Roxb.) merupakan jenis pohon komersil yang menjadi salah satu jenis andalan untuk bahan baku kayu pertukangan khususnya di wilayah Sumatera Bagian Selatan. Kayu tembesu termasuk dalam kelas kuat II-I, kelas awet I dengan berat jenis 0.7 – 0.9. Kayu tembesu memiliki tekstur kayu halus sampai agak halus dan merata. Kayu tembesu sudah sangat dikenal dalam perdagangan kayu di Indonesia maupun internasional. Walaupun tembesu sudah menjadi komoditas yang penting, namun sampai saat ini produksi kayu tembesu masih mengandalkan sumber daya hutan alam dan kebun-kebun tembesu masyarakat. Saat ini populasi kayu tembesu sudah menurun dan hanya dijumpai di sebagian kecil daerah sebaran alaminya. Upaya pembangunan hutan tanaman tembesu merupakan salah satu alternatif dalam program pembangunan kehutanan. Pembangunan hutan tanaman tembesu harus didukung dengan teknik budidaya yang baik, meliputi : keberadaan sumber benih tembesu, kesesuaian karakteristik tempat tumbuh tembesu, teknik pembibitan tembesu, teknik penanaman tembesu yang tepat serta teknik pemanenan tembesu yang efektif dan efisien. Teknis penanaman tembesu yang baik akan menghasilkan pertumbuhan yang optimal bagi tanaman tembesu dan meningkatkan produksi kayu tembesu.
PERSIAPAN LAHAN
A. Orientasi Lokasi
Kegiatan ini dimaksudkan untuk memilih lokasi yang digunakan sebagai areal penanaman tembesu dengan berbagai kriteria dan pertimbangan diantaranya adalah luasan efektif, kemiringan lahan, kemungkinan bahaya kebakaran dan lahan tergenang, kemudahan aksesibilitas, dan sebagainya. Setelah lokasi jelas, selanjutnya dilakukan pengukuran dan pembuatan batas plot.
B. Penyiapan lahan
Penyiapan lahan bertujuan untuk mempersiapkan lahan seoptimal mungkin mulai dari pembersihan lahan sampai pada masa penanaman tembesu akan dilaksanakan. Tahapan-tahapan penyiapan lahan adalah :
- Penebangan pohon dan penebasan vegetasi tertutup. Setelah dilakukan penebangan dan penebasan dibuang atau dibakar dengan membuat sekat bakar terlebih dahulu. Dalam melakukan pembakaran, dilakukan dengan pengawasan yang ketat dan disediakan fasilitas penanggulangan kebakaran untuk menanggulangi apabila terjadi loncatan api atau perambatan api ke luar lokasi demplot.
- Pengajiran dan Pemberian pupuk dasar. Pengajiran dimaksudkan sebagai penanda tempat bibit akan ditanam dimana jarak antar ajir disesuaikan dengan rancangan yang telah ditetapkan. Ajir dibuat dari cabang atau batang tanaman dengan diameter 1,5 – 2 cm dan panjang 1,5 – 2 m. Pemberian pupuk dasar dimulai dengan pembuatan lubang dengan ukuran 20 x 20 x 20 cm. Setelah itu pupuk kandang dimasukkan sebanyak 1 kg/lubang dan lubang ditutup kembali. Pupuk kandang yang digunakan adalah pupuk ayam padat yang telah mengalami proses pembusukan. Maksud pemberian pupuk kandang adalah untuk membantu menetralkan pH tanah, membantu menetralkan racun akibat adanya logam berat dalam tanah, memperbaiki struktur tanah menjadi lebih gembur, mempertinggi porositas tanah dan secara langsung meningkatkan ketersediaan air tanah, serta membantu mempertahankan suhu tanah sehingga fluktuasinya tidak tinggi.
- Penyemprotan herbisida dan penebasan gulma. Setelah dilakukan pengajiran, lahan mengalami masa bra selama 1 bulan. Setelah itu dilakukan penyemprotan herbisida untuk menanggulangi gulma yang tumbuh kembali. Untuk jenis-jenis gulma yang tidak bisa ditanggulangi dengan penyemprotan, penanggulangan dilakukan dengan penebasan.
PENANAMAN
A. Seleksi Bibit
Kegiatan penanaman tembesu dilaksanakan dimulai dengan melakukan pemilihan/seleksi bibit dipersemaian yang mempunyai kualitas baik dan dengan pertumbuhan yang relatif seragam. Tinggi bibit tanaman tembesu diupayakan seragam dengan kisaran 40 – 70 cm.
B. Pengangkutan dan Pengeceran Bibit
Bibit yang sudah terpilih diangkut ke lokasi penanaman den gan alat angkut yang telah disesuaikan dengan kebutuhan. Waktu pengangkutan pada pagi hari dan adakan penyiraman terlebih dahulu dengan tujuan untuk mengurangi penguapan yang terlalu besar sehingga kematian bibit akibat transportasi dapat diminimalkan. Bibit setelah sampai dilokasi tidak langsung ditanam. Bibit beradaptasi dulu dengan lokasi penanaman ± 2 minggu untuk menghindari resiko kematian pada penanaman karena stress akibat proses pengangkutan. Bibit yang akan ditanam dimasukkan kedalam wadah kantong plastik (25 bibit/kantong) dan diadakan pengeceran bibit pada ajir yang sudah ditentukan.
C. Penanaman
Penanaman tembesu dilakukan dengan membuat lubang tanam dengan ukuran 20 x 20 x 20 cm dan membersihkan areal di sekitar lubang tanam dari tumbuhan pengganggu (gulma) seluas 0,5 m². Bibit tembesu ditanam dengan terlebih dahulu membuka kantong plastik (polybag), memasukkan kedalam lubang tanam, menutup lubang dengan lapisan topsoil, memadatkan tanah disekitar tanaman dan memasang kantong plastik (polybag) pada kepala ajir sebagai tanda bahwa pada tempat tersebut sudah diadakan penanaman. Penanaman tembesu mulai dilaksanakan pada saat kondisi hujan merata sepanjang hari atau terdapat hujan sebanyak ± 4 kali dalam seminggu.
Tembesu termasuk tanaman yang intoleran. Pertumbuhan tembesu lebih baik pada lahan terbuka. Penanaman tembesu pada lahan terbuka (tebas total) dan tebas jalur menunjukkan bahwa pada umur tanaman 9 bulan pertumbuhan tanaman pada lahan terbuka lebih baik daripada lahan semak belukar.
Penanaman tembesu dengan jarak tanam 3 x 2 m mempunyai pertumbuhan awal (umur 1 tahun) yang lebih baik dibandingkan jarak tanam 3 x 1 m. Penanaman dengan jarak tanam yang lebih lebar akan menyebabkan munculnya percabangan yang lebih banyak dengan tinggi bebas cabang yang rendah.
Sumber : Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang

